Kalau saya ditanya tentang gimana perjuangan dulu saat awal merintis BIMBEL, bibir saya bisa komat-kamit enggak berhenti buat cerita. #sangking serunya
Flashback ke masa lalu gimana rasanya ditolak banyak sekolah buat promosi, rasanya promosi dari satu kelas ke kelas lainnya sampe tenggorokan gatel, keliling komplek nyariin emak-emak buat promosi sambil nahan malu, rasanya ngetukin pintu dari satu rumah ke rumah lainnya sambil teriak-teriak karna enggak ada jawaban, rasanya nyetak brosur yang harganya lumayan eh pas udah di bagiin malah dibuang-buang, rasanya masang plang di pinggir jalan pas besoknya udah dicabut orang. #Ngenes
Tapi jangan salah, justru pengalaman-pengalaman susah itu sekarang jadi cerita yang indah karna penuh dengan hikmah, dan pelajaran yang paling berharga saat merintis usaha BIMBEL adalah perkara NIAT.
Dulu, sebelum memutuskan untuk buka BIMBEL di daerah perkotaan, langkah paling awal yang saya lakukan pada saat itu adalah melakukan riset, iya riset. Jadi enggak ujug-ujug buka gitu aja. #sangking seriusnya
Datengin satu-satu BIMBEL yang jaraknya dekat dengan lokasi yang jadi target utama saya, observasi tempatnya, merhatiin bagian interior & eksteriornya (warna bangunannya, sticker di dindingnya, isi dan ukuran bannernya), melajarin Customer Service nya (cara nyambut tamunya, cara jelasin informasinya, cara ngerayu calon customernya supaya daftar, intonasinya, pakaiannya), dan ketika sudah dapat brosurnya, saya pelajari lagi dirumah untuk di riset apa kelebihan dan kekurangannya, bahkan enggak cuma itu, saya juga kepoin media sosialnya, konten-kontennya, cara ngiklannya, cara interaksinya. Pokoknya saya lahap semua informasinya.
Emang bisa?! Emang boleh?!
Ya boleh dong, namanya juga riset kompetitor. Dalam dunia bisnis justru dianjurkan, jadi jangan cuma riset market doang, tapi riset juga kompetitornya.
Tujuannya ?!
Supaya bisa ngukur kekuatan dan kelemahan kompetitor, supaya jasa dan treatment yang diberikan enggak sama, kalau kompetitor cuma ngajarin pelajaran sekolah saja, saya ada tambahan lainnya, kalau kompetitor cuma berinteraksi pas wayahnya bayaran saja, saya berinteraksi lebih intens lagi, misalnya balesin status WA nya, like dan komen di postingan IG & FB nya, dan kalau kompetitor cuma promosi pakai cara gratisan, saya tambah pakai promosi berbayar.
Intinya saya berusaha memberikan pelayanan dan menjaga hubungan yang lebih baik dari kompetitor.
Terus apa hubungannya sama niat?!
Nah, jadi pada waktu awal saya mendirikan BIMBEL, niat saya waktu itu cuma satu, UANG. Kenapa?!, karna buka usaha di daerah perkotaan biayanya mahal coyyy !!!, Apalagi sewa tempat, ditambah kompetitor yang banyak udah lebih dulu berdiri di situ, jadi harus penuh perhitungan.
Akibatnya prosesnya menjadi payah, targetnya tak pernah tercapai, dan yang paling kerasa adalah hasilnya jadi nggak berkah.
Anda pasti tahu betul kalau akibatnya rezeki tak berkah #pokoknya Na’udzubillah min dzalik
Tapi kan wajar kalau berbisnis itu niatnya untuk dapat keuntungan ?!
Justru itu salahnya, bisnis BIMBEL itu berurusan dengan ilmu, apalagi di BIMBEL saya ada tambahan agamanya #ngeri2 sedap
Kalau niatnya hanya nyari uang, bukan lillah untuk mentransfer ilmu, dan mendidik anak supaya berakhlak mulia, makan apa yang saya niatkan dan lakukan di BIMBEL saya pada saat itu bisa jadi tidak tercata sebagai amal Soleh.
Kalau niatnya cuma untuk nyari harta semata tanpa mikirin akhirat selamanya, apa jadinya kalau saya sudah meninggal dunia. #nggak jadi amal jariyah
Dan benar saja, setelah saya merubah niat saya menjadi lillah, prosesnya menjadi mudah, dan target bulananpun tercapai, dan yang paling terasa adalah keberkahannya. #MasyaAllah
Apa kabar Anda yang merupakan seorang BIMBEL Owner?, Apakah niatnya hanya sebatas mencari keuntungan semata atau benar-benar lillahita’ala ?!
